|
Profile:
ROBERT TANOTO
Tokoh profile kita kali ini adalah orang yang sudah tidak
asing lagi bagi kalangan umat di Catholic Indonesian Community.
Om Robert (begitu biasa dipanggil oleh para Mudika), yang
terkenal supel dan mudah untuk mengenal orang, dan yang sangat
menonjol terutama adalah kedekatannya dengan para Mudika.
Ketika ditanya tentang kesannya terhadap Mudika, beliau sangat
antusias sekali dan sangat senang akan kehadiran Mudika yang
menambah komunitas semakin hidup dan yang diharapkannya agar
dapat menjadi penerus Catholic Indonesian Community. Berikut
petikan ngobrolan santai bersama beliau.
Q: Kapan om pertama kali datang ke Australia?
A: Om pertama kali datang ke Australia pada tahun 1973, pada
waktu itu saya datang ke Sydney untuk melihat keadaan di luar
negeri terutama Australia selain untuk jalan-jalan, dan kebetulan
adik saya sudah datang duluan ke Sydney, jadi saya sekalian
mengunjunginya, dan pada tahun 1976 kembali lagi ke Australia
bersama istri saya (tn. Elvi).
Q: Bagaimana ceritanya om bisa terlibat dalam CIC?
A: Sejak kedatangannya pada tahun 1973, om Robert sudah mempunyai
niat untuk melayani dalam kerasulan awam, terutama latar belakang
beliau di Indonesia sudah terlibat dalam organisasi Pemuda
Katolik sejak SMP di Bandung, dan pada tahun 1976 mulai bergabung
dengan umat di Sydney.
Q: Bisa om ceritakan sedikit tentang terbentuknya CIC?
A: Om bukan tidak mau menceritakan, tetapi dalam hal ini terbentuknya
CIC sendiri adalah melalui proses yang panjang, dan harus
ada penjelasan tersendiri mengenai ini, karena CIC terbentuk
bukan dengan sendirinya, tetapi atas jasa-jasa banyak orang
maupun organisasi lain yang turut membantu terbentuknya CIC?
Q: Hal apa yang paling essential pada saat-saat awal CIC,
sehingga seperti CIC yang sekarang ini?
A: Menurut saya hal yang essential dan berkesan adalah, pada
saat CIC berusaha untuk memiliki Chaplain sendiri, kita struggle
dalam penantian selama 5 tahun untuk dapat mempunyai Chaplain
sendiri, dengan bantuan pula dari umat dan rekan-rekan lain,
terutama bantuan dari pihak S.V.D.
Q: Apa suka dukanya melayani di CIC?
A: Suka dukanya banyak sekali dan beragam, tapi satu yang
pasti dalam melayani ada rasa kepuasan tersendiri yang tidak
bisa diceritakan, dan dalam melayani saya menempatkan kepentingan
bersama (dalam hal ini CIC), merupakan prioritas utama saya,
disamping pekerjaan-pekerjaan yang lain. Disamping itu banyak
pula berhubungan dengan orang lain dengan karakteristik yang
berbeda, intinya rasa toleransi dan tenggang rasa adalah hal
utama, juga di dalam mengatasi berbagai masalah.
Q: Gaya kepemimpinan apa yang om terapkan dalam kapasitas
om sebagai ketua Dewan di CIC?
A: Yach itu tadi, toleransi, dan musyawarah, jadi setiap ada
masalah dan hal-hal penting yang harus diputuskan, om tentunya
menanyakan dulu kepada anggouta Dewan yang lain, baik secara
formal (dalam rapat), maupun informal. Sangat jarang sekali
om mengambil keputusan sendiri, kalau tidak untuk hal-hal
yang sifatnya mendesak untuk diambil tindakan.
Q: Apa yang om harapkan dari Mudika sebagai bagian dari
CIC?
A: Om mengharapkan Mudika jangan malu-malu untuk maju, artinya
mengambil peran aktif dalam pelayanan, banyak om lihat dari
para Mudika yang mempunyai kemampuan tetapi sungkan untuk
tampil sebagai pemimpin, mungkin malu dan ngak enak sama orang
tua, atau lainnya. Justru disinilah om tekankan kepada para
Mudika untuk tidak ragu-ragu untuk tampil dan Dewan pasti
membantu dan mau mendukung orang-orang yang berani tampil,
tak terkecuali Mudika.
Q: Seperti kita ketahui Mudika tidak disarankan oleh Dewan
untuk mempunyai keuangan sendiri, apa yang menjadi pertimbangan
hal ini?
A: Dalam hal ini, om tidak mau terjadi kesimpang siuran, seolah-olah
ada organisasi di dalam organisasi dalam tubuh CIC, bila memang
Mudika memerlukan dana, tinggal mengajukan saja pada Dewan,
dan selama ini kita tidak pernah menolak permintaan dana dari
Mudika, bahkan sebaliknya kita mendukung dan mensuport apa
yang menjadi kebutuhan Mudika.
Q: Kesan apa yang om dapatkan dari karakteristik umat di
CIC, dalam hal ini Mudika?
A: Dapat terlihat dari karakteristik umat di CIC adalah beragam,
dan ciri khas dari Mudika itu majoritas adalah pelajar, jadi
pada saat kita sudah saling mengenal, tiba-tiba Mudika tersebut
sudah harus kembali ke Indonesia karena studynya sudah selesai,
hal ini menjadi keunikan sendiri dalam misi regenerasi di
CIC. Sangat disayangkan dalam Mudika harus berganti-ganti
personil, tetapi di lain pihak banyak pula yang sudah menetap,
yang om harapkan dapat menjadi penerus kita-kita ini nantinya.
Q: Mengenai bulletin, apakah ada rencana CIC untuk membuat
bulletin sendiri?
A: Memang udah ada pemikiran ke arah itu, dan sudah ada yang
mengusulkan juga akan penerbitan bulletin berkala seperti
Mudika Express ini, tetapi kita masih krisis tenaga, jadi
belum ada orang yang mau melayani penerbitan bulletin umat
ini.
Q: Bagaimana kalau tim Mudika Express ini yang bisa bekerja
sama untuk penerbitan bulletin umat CIC Newtown?
A: Baik sekali itu, dan om senang sekali bila ada Mudika yang
berani tampil sebagai pioneer untuk penerbitan bulletin kita
nantinya.
Q: Terakhir, pesan apa yang ingin om sampaikan untuk umat
CIC pada umumnya?
A: Mari kita bersama-sama melayani dengan semangat persaudaraan
yang tinggi, agar kita dapat bersatu dan lebih baik lagi untuk
menghadapi tantangan-tantangan jaman, bagi Gereja dan Tuhan.
|