Daftar isi:
Renungan
Profile
Lebih dekat
Konsultasi
Kuis
Berita Mudika
Artikel Lain
Links
Contact Us

 

 

Profile:

Rm. Hubert Ghewa SVD.

Sebagai Chaplain CIC, Romo Hubert ingat betul bagaimana mulanya eksistensi Mudika di CIC Newtown sebagai wadah informal yang akhirnya banyak membantu pelayanan kepada umat. Usaha yang dirintis dari duo Eva Sugyono dan Liza Wihardja juga merupakan perwujudan dari Pastoral encouragement dan entrustment. Ketika ditanya tentang kesannya terutama dengan umat Katolik Indonesia di Australia, Rm. Hubert mengaku lebih banyak sukanya, apalagi dengan para mudika.

Berikut petikan wawancara singkat oleh Frans Simarmata, yang ditemani oleh Erik Gani dan Renaldi di Crpyt, sebelum misa.
Q: Kenapa Romo tertarik menjadi imam?

A: Itulah yang menjadi pencarian saya. Saya coba lihat kembali lingkungan waktu kecil yang amat mempengaruhi saya menjadi imam. Saya dididik dalam keluarga Katolik. Setiap hari mereka berdoa mohon panggilan. Dan keluarga melihat saya bahwa saya bisa. Salah satu ungkapannya: “ …Adik-adik yang lain ganteng-ganteng, putih-putih, rabut air, lalu saya sendiri yang ganjal ya. Hitam, keriting …look ugly! Mereka bilang, ‘Hei engkaulah muka buruk yang masuk seminari. (sambil tertawa lepas) Itu kelakar, tapi dalam hati, mereka senang sekali; sehingga itu yang paling pertama.Yang kedua, di Flores tidak ada pilihan sekolah yang baik, satu-satunya adalah seminari. Jadi sejak tamat SD tahun 1979, langsung masuk seminari. Apalagi di seminari dijanjikan kamu hidupnya akan enak. Lainnya, mungkin motivasi orang tua bahwa masuk seminari bisa meningkatkan status sosial. Orang tua merasa senang dan bangga kalau anaknya masuk seminari. Tapi kemudian saya ikuti pendidikan seperti biasa, lalu saya menemukan baik juga ‘kan dan jalankan terus, bertekun dalam studi selama 6 tahun di seminari rendah, 8 tahun di seminari tinggi. Memang ada banyak tantangan, ada banyak senangnya juga.

Q: Apa ada pengalaman rohani yang dialami, yang sangat berkesan?.

A: Pengalaman rohani belum ada. Hanya mengikutinya saja. Saya memilih motto tahbisan saya ’Carilah dahulu Kebenaran’. Itu yang menjadi perjalanan pangilan saya. Karena saya mengikuti panggilan tidak definitif, dari awal sejak dipanggil belum harus menjadi imam, …tapi saya sedang dipanggil untuk menjadi imam.

Q: Romo, selama menjadi imam, ada suatu godaan yang paling …..? (belum selesai, langsung dijawab)

A: Ouw..godaan yang paling besar …untuk tinggalkan imamat itu, karena saya memilih hidup selibat; hidup miskin, harus taat, hidup murni tidak kawin … dan ini betul melawan kemanusiaan saya. Godaan kedua saya adalah ketaatan. Bahwa saya ingin bebas dan menghayati hidup saya – menuruti keinginan saya, kerinduan saya untuk misalnya mebangun hidup keluarga/kawin. Itu godaan yang paling berat menjadi imam/biarawan.

Q: Bagaimana Romo bisa mengatasinya?

A: Bisa mengatasinya …adalah saya terima kepercayaan orang, dari Pembesar, “Oke saya percayakan kamu ..”. Pertama saya diutus ke Kalimantan. Senang pergi keluar dari daerah Flores. Bertemu dengan budaya baru, orang baru, tradisi baru, suasana baru. Itulah yang membuat saya segar, ada kenikmatan dalam menjalankan panggilan ini. Ada berkat ya! Kemudian ada tawaran ke Jakarta….ke Jakarta buat orang Flores itu impian, hanya orang yang beruang yang bisa ke Jakarta, apalagi naik pesawat. Berikutnya ditawarkan ke Australia, ahh ..benar suatu hal bantuan untuk mengurangi suara godaan. Bahwa dalam panggilan ini ada berbagai berkat Tuhan. Kita bisa melihat dunia. Dunia saya tidak sempit, tetapi berkembang meluas dan pengalaman saya tidak miskin tetapi diperkaya. Lalu di sini, tidak hanya di tinggal di Melbourne, tapi di pindah-pindahkan ke Brisbane, Sydney dengan kepercayaan tugas-tugas yang berbeda-beda. Dan saya terima itu, karena mereka melihat saya mampu untuk melaksanakan tugas.

Q: Melbourne, Brisbane baru ke Sydney …terus sedikit lagi Romo, siapa tokoh/figur yang diidolakan dalam hidup, yang banyak mempengaruhi hidup? A: Figur itu adalah Santo Agustinus. Q: Santo Agustinus, kenapa?

A: Yang pertama, dia dulu bukan orang beriman. Masa mudanya betul-betul ‘manusiawi’ dan kemudian bertobat. Dan dalam pertobatanya dia menyerahkan dan mebaktikan seluruh hidupnya untuk Tuhan dan KerajaanNya. Dan selama dia bertobat, satu-satunya motto hidupnya adalah selalu mencari kebenaran – Dia belum puas, selalu mencari dan mencari. Dia mengajarkan, ‘Hatiku belum beristirahat, sebelum memandang wajah Tuhan’. Sehingga saya memilih motto panggilan saya ‘Carilah dahulu Kebenaran’, (diambil dari Matius 6).

 

mudika cic newtown - Sydney © 2000-2001